add_action('wp_footer', function () { echo ''; }, 99); Yusuf Dzannun: Menghidupkan Warisan Kaligrafi Islam melalui Pendidikan dan Penelitian - Pesantren Kaligrafi SAKAL Jombang

Yusuf Dzannun: Menghidupkan Warisan Kaligrafi Islam melalui Pendidikan dan Penelitian

Disusun dan dihimpun oleh: Bukhori Ibnu Athoillah

Yusuf Dzannun merupakan salah seorang maestro kaligrafi Arab kontemporer, peneliti, sejarawan seni Islam, pakar epigrafi Arab, dan filolog terkemuka dari Irak. Ia lahir di kawasan Bāb al-Jadīd, Kota Mosul, Irak, pada 7 Mei 1931 (20 Dzulhijjah 1349 H). Sejak usia dini ia telah menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap berbagai bidang seni dan kerajinan, seperti menenun, pertukangan kayu, dan arsitektur. Minat tersebut kemudian berkembang menjadi kecintaan yang mendalam terhadap seni Islam, khususnya seni kaligrafi Arab, yang kelak menjadi bidang pengabdiannya sepanjang hayat.

 

Yusuf Dzannun tumbuh dalam keluarga sederhana. Dalam salah satu pengakuannya, ia menyebutkan bahwa kondisi ekonomi keluarganya memaksanya bekerja sejak usia muda sambil tetap melanjutkan pendidikan. Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu alasan utama yang mendorongnya mempelajari kaligrafi adalah karena merasa tulisan tangannya kurang baik. Berbeda dengan banyak khattat besar yang memperoleh pendidikan langsung melalui jalur guru-murid sejak awal, Yusuf Dzannun memulai perjalanan kaligrafinya secara otodidak. Pada tahap awal ia mempelajari karya-karya Sabri al-Hilali dan Hasyim Muhammad al-Baghdadi. Selanjutnya ia memperdalam pemahamannya melalui kitab Ātsār Muḥammad Izzat karya Muḥammad Izzat Efendi, salah seorang maestro kaligrafi Turki Utsmani. Kitab tersebut merupakan pedoman klasik yang memuat kaidah berbagai jenis khat beserta contoh-contohnya dan menjadi salah satu rujukan penting bagi generasi kaligrafer sesudahnya.

 

Pendidikan formal Yusuf Dzannun dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Ibn al-Atsir di Mosul sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah. Setelah itu ia menempuh pendidikan di Akademi Pendidikan dengan spesialisasi Pendidikan Seni dan lulus sebagai tenaga pendidik. Seusai menyelesaikan pendidikannya, ia memulai karier sebagai guru di kawasan al-Mahlabiyah, Provinsi Ninawa. Latar belakang akademiknya kemudian mengantarkannya menjadi guru seni, pengajar kaligrafi Arab, sekaligus konsultan seni kaligrafi pada berbagai lembaga pendidikan. Ia pernah mengajar kaligrafi Arab dan pendidikan seni di sejumlah sekolah dan institut di Mosul. Pada periode 1970–1976 ia menjabat sebagai penanggung jawab bidang kaligrafi Arab di Pusat Aktivitas Sekolah (Markaz al-Nasyāṭ al-Madrasī), kemudian pada tahun 1979–1982 diangkat sebagai pengawas pendidikan di Institut Seni Rupa Mosul. Selain itu, ia juga dipercaya sebagai konsultan umum pada Kantor Pendidikan Provinsi Ninawa.

 

Seiring aktivitasnya sebagai pendidik, Yusuf Dzannun terus mengembangkan diri sebagai kaligrafer, peneliti, dan penulis. Selama lebih dari tiga dekade ia melakukan penelitian mengenai sejarah seni Islam, perkembangan tulisan Arab, manuskrip, arsitektur Islam, serta inskripsi-inskripsi Arab pada berbagai bangunan bersejarah di Irak. Sejak mengakhiri masa pengabdiannya di bidang pendidikan pada tahun 1981, ia memusatkan hampir seluruh aktivitas ilmiahnya pada penelitian seni Islam secara umum dan seni kaligrafi Arab secara khusus. Pada masa inilah ia semakin intensif melakukan penelitian lapangan terhadap masjid-masjid kuno, makam, madrasah, benteng, dan berbagai bangunan bersejarah di Mosul maupun wilayah lain di Irak. Melalui penelitian tersebut ia berhasil mendokumentasikan dan mengkaji ratusan inskripsi Arab yang menjadi sumber penting bagi kajian sejarah seni Islam, arsitektur Islam, paleografi Arab, dan epigrafi Islam. Kontribusi ini menjadikannya bukan hanya dikenal sebagai seorang khattat, tetapi juga sebagai salah seorang pakar epigrafi Arab dan peneliti warisan budaya Islam yang paling berpengaruh di Irak.

 

Perjalanan intelektual dan artistik Yusuf Dzannun mengalami titik balik yang sangat menentukan ketika pada tahun 1957 ia melakukan kunjungan pertamanya ke Istanbul. Kunjungan tersebut membuka cakrawala baru dalam pandangannya terhadap seni Islam dan kaligrafi Arab. Selama berada di kota itu, ia mempelajari secara langsung karya-karya para maestro khattat Turki Utsmani, mengunjungi masjid-masjid bersejarah, museum, kompleks pemakaman, perpustakaan, serta berbagai bangunan yang dihiasi inskripsi dan ornamen kaligrafi. Ia juga menelaah metode pembelajaran kaligrafi melalui karya-karya Muḥammad Izzat Efendi dan Ḥāfiẓ Tahsin. Pengalaman tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan artistik dan intelektualnya, sehingga sejak saat itu Istanbul menjadi salah satu pusat inspirasi terpenting dalam perjalanan hidupnya sebagai kaligrafer dan peneliti seni Islam.

 

Dalam kunjungannya ke Turki, Yusuf Dzannun senantiasa memanfaatkan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan maestro kaligrafi Turki Utsmani, Hamid Aytaç al-Amidi. Berkat ketekunan, keluasan pengetahuan, dan kualitas karya-karyanya, Yusuf Dzannun memperoleh ijazah tabarrukan wa taqdīran (ijazah penghormatan dan penghargaan) dari Hamid al-Amidi pada tahun 1966, kemudian kembali menerima penghargaan serupa pada tahun 1969. Berbeda dengan ijazah masyq, yang diberikan kepada murid setelah menyelesaikan proses pembelajaran secara langsung di bawah bimbingan seorang guru, ijazah tabarrukan wa taqdīran merupakan bentuk pengakuan atas keunggulan keilmuan dan kemahiran seorang kaligrafer tanpa melalui proses pembelajaran formal. Dalam sejarah kaligrafi Islam modern, penghargaan semacam ini sangat jarang diberikan. Hamid al-Amidi diketahui hanya menganugerahkannya kepada dua orang khattat, yaitu Yusuf Dzannun dan Hasyim Muhammad al-Baghdadi. Oleh karena itu, banyak kaligrafer memandang jenis ijazah ini sebagai salah satu bentuk penghargaan tertinggi dalam tradisi kaligrafi Islam kontemporer.

 

Selain mengunjungi masjid-masjid bersejarah, museum, kompleks pemakaman, dan berbagai peninggalan seni Islam di Turki, dan bertemu dengan Hamid al-Amidi, Yusuf Dzannun juga sering mengunjungi IRCICA (Research Centre for Islamic History, Art and Culture) di Istanbul, sebuah lembaga di bawah naungan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berperan penting dalam penelitian, pelestarian, dokumentasi, dan pengembangan sejarah, seni, serta kebudayaan Islam, khususnya seni kaligrafi. Melalui penyelenggaraan Musabaqah Kaligrafi Internasional yang diadakan secara berkala setiap tiga tahun, disertai pameran, seminar, simposium, lokakarya, dan berbagai kegiatan ilmiah lainnya, IRCICA menjadi salah satu institusi yang berkontribusi besar dalam kebangkitan kembali seni kaligrafi Islam pada era modern.

 

Yusuf Dzannun juga aktif dalam berbagai organisasi ilmiah dan kebudayaan. Ia merupakan salah seorang pendiri Perhimpunan Warisan Arab (Jamʿiyyah al-Turāṯ al-ʿArabī) di Mosul, anggota Perhimpunan Kaligrafer Irak, serta anggota kehormatan Perhimpunan Alumni Peningkatan Tulisan Arab di Mesir. Melalui berbagai organisasi tersebut, ia berperan dalam pelestarian warisan seni Islam, pengembangan pendidikan kaligrafi Arab, serta penelitian sejarah dan peninggalan arkeologi Islam. Selain aktif mengikuti seminar, konferensi, dan pameran kaligrafi di berbagai negara, ia juga sering diundang untuk menyampaikan kuliah, memberikan pelatihan, dan menjadi juri dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni kaligrafi Arab.

 

Sebagai pendidik, Yusuf Dzannun dikenal memiliki perhatian besar terhadap pembinaan generasi baru kaligrafer. Selama puluhan tahun ia mengajar kaligrafi Arab kepada banyak murid, baik melalui lembaga pendidikan formal maupun pelatihan khusus. Sejumlah muridnya kemudian berkembang menjadi kaligrafer terkemuka di dunia Arab dan dunia Islam, di antaranya Belaid Hamidi al-Maghribi, Mahfudz Dzannun, Ali Hamid al-Rawi, Iyad al-Husaini, Thalib al-Azzawi, Bassem Dzannun, Marwan Harbi, Ammar Abdul Ghani, Abbas al-Ta’i, Ali Hasan, Ali Ahmad, Abdul Ghali Abdul Razzaq, Hasan Qasim Habasy, Farah Adnan, dan Jannah Adnan. Sebagian dari mereka kemudian memperoleh ijazah kaligrafi darinya dan turut berperan dalam melanjutkan tradisi kaligrafi Arab di berbagai negara.

 

Di samping aktivitasnya sebagai pendidik, Yusuf Dzannun dikenal sebagai kaligrafer yang sangat produktif. Karya-karyanya menghiasi berbagai masjid, bangunan publik, monumen, dan institusi keagamaan di Irak. Ia juga berpartisipasi dalam berbagai pameran kaligrafi di tingkat nasional maupun internasional, yang semakin mengukuhkan reputasinya sebagai salah seorang tokoh penting dalam perkembangan kaligrafi Arab kontemporer.

 

Namun demikian, kontribusi Yusuf Dzannun tidak terbatas pada penciptaan karya kaligrafi. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pakar epigrafi Arab yang memberikan sumbangan besar dalam penelitian inskripsi-inskripsi Arab pada bangunan bersejarah di Irak. Selama bertahun-tahun ia melakukan pendokumentasian, pembacaan, analisis, dan pelestarian berbagai inskripsi yang terdapat pada masjid, madrasah, makam, benteng, istana, dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya, khususnya di Mosul dan kawasan Ninawa. Penelitian tersebut menghasilkan data yang sangat penting bagi rekonstruksi sejarah arsitektur Islam, perkembangan paleografi Arab, sejarah seni Islam, serta pelestarian warisan budaya Islam di Irak.

 

Kepakarannya dalam bidang epigrafi menjadikannya sebagai salah satu rujukan utama bagi para peneliti arkeologi dan sejarah seni Islam. Banyak kajian mengenai arsitektur dan peninggalan Islam di Irak menggunakan hasil dokumentasi serta pembacaan inskripsi yang dilakukannya sebagai sumber primer. Melalui penelitian lapangan yang dilakukannya selama puluhan tahun, Yusuf Dzannun berhasil menyelamatkan dokumentasi berbagai inskripsi yang sebagian di antaranya kemudian mengalami kerusakan atau bahkan musnah akibat konflik yang melanda Irak. Oleh karena itu, kontribusinya tidak hanya penting bagi dunia kaligrafi, tetapi juga bagi pelestarian memori sejarah dan warisan peradaban Islam.

Selain menghasilkan karya kaligrafi dan penelitian ilmiah, Yusuf Dzannun juga aktif menulis berbagai buku yang menjadi rujukan penting dalam pembelajaran kaligrafi Arab maupun kajian sejarah seni Islam. Karya-karyanya mencakup bidang pendidikan kaligrafi, teori penulisan berbagai jenis khat, seni dekorasi Islam, sejarah arsitektur, hingga perkembangan tulisan Arab. Buku-buku tersebut tidak hanya digunakan di Irak, tetapi juga menjadi referensi bagi para pengajar dan pelajar kaligrafi di berbagai negara.

 

Di samping berkarya sebagai kaligrafer, Yusuf Dzannun juga dikenal sebagai penulis dan peneliti yang produktif. Sepanjang kariernya ia menghasilkan berbagai buku dan karya ilmiah yang mencakup bidang kaligrafi Arab, pendidikan seni, seni hias Islam, epigrafi, arsitektur, serta sejarah seni Islam. Sebagian besar karya tersebut disusun berdasarkan pengalaman panjangnya sebagai pendidik sekaligus hasil penelitian lapangan yang dilakukannya terhadap manuskrip, bangunan bersejarah, dan inskripsi Arab di berbagai wilayah Irak.

 

Di antara karya-karyanya yang paling dikenal ialah Durūs al-Tarbiyah al-Fanniyyah (1965), Khulāṣah Qawāʿid Khaṭṭ al-Riq’ah (1971), Al-Khaṭṭ al-Kūfī (1972), Mabādi’ al-Zukhrufah al-‘Arabiyyah (al-Tawrīq) (1972), Kurrāsat Taḥsīn al-Kitābah al-I’tiyādiyyah (1978), Qawāʿid Khaṭṭ al-Riq’ah (1978), Qawāʿid al-Khaṭṭ al-Dīwānī (1978), Al-‘Imārāt al-Sakaniyyah wa al-Khidmiyyah fī Madīnat al-Mawṣil (ditulis bersama, 1981–1983), serta Al-Kitābah wa Fann al-Khaṭṭ al-‘Arabī: al-Nasy’ah wa al-Taṭawwur (2012). Karya-karya tersebut hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam pembelajaran kaligrafi Arab maupun kajian sejarah seni Islam.

 

Di antara seluruh karya tersebut, buku Qawāʿid Khaṭṭ al-Riq’ah merupakan salah satu kontribusi intelektual Yusuf Dzannun yang paling berpengaruh. Buku tersebut berawal dari diktat pembelajaran yang disusunnya pada tahun 1962 untuk kursus kaligrafi di Madrasah al-Mu’allimīn, Mosul, ketika lembaga tersebut memasukkan khat Naskhi dan Riq’ah sebagai bagian dari kurikulum resminya. Pada masa itu, metode pembelajaran yang digunakan masih mengikuti tradisi klasik, yaitu mengajarkan seluruh bentuk huruf secara bertahap, dimulai dari huruf tunggal (mufradāt), kemudian bentuk sambungan setiap huruf dengan huruf lainnya, dilanjutkan dengan latihan menyusun kata, hingga akhirnya menyalin kalimat-kalimat yang panjang. Meskipun metode tersebut terbukti menghasilkan kaligrafer yang baik, proses pembelajarannya memerlukan waktu bertahun-tahun sehingga sulit diterapkan dalam sistem pendidikan modern yang memiliki alokasi jam pelajaran terbatas.

 

Berangkat dari kenyataan tersebut, Yusuf Dzannun berupaya menyusun metode pembelajaran yang lebih efektif tanpa meninggalkan kaidah-kaidah baku khat riq’ah. Setelah melalui proses pengamatan, penelitian, dan uji coba yang dilakukan selama bertahun-tahun, ia menyimpulkan bahwa seluruh bentuk huruf dalam khat riq’ah pada dasarnya dapat dikembalikan kepada delapan bentuk huruf pokok (al-ḥurūf al-asāsiyyah). Huruf-huruf lainnya hanyalah variasi yang terbentuk melalui penambahan, pengurangan, atau penggabungan unsur-unsur dari bentuk dasar tersebut. Dengan demikian, seorang pelajar tidak lagi dituntut menghafal seluruh bentuk huruf sejak awal, melainkan cukup memahami delapan bentuk dasar sebagai fondasi untuk menguasai keseluruhan sistem penulisan khat riq’ah.

 

Metode tersebut terbukti mampu menyederhanakan proses pembelajaran sekaligus mempercepat penguasaan dasar-dasar khat riq’ah. Yusuf Dzannun sendiri menerapkannya selama bertahun-tahun ketika mengajar di berbagai sekolah, institut, dan perguruan tinggi di Irak. Menurut kesaksiannya, pendekatan tersebut memberikan hasil yang jauh lebih efektif dibandingkan metode klasik, karena peserta didik dapat memahami struktur huruf secara lebih sistematis tanpa kehilangan ketelitian dalam penerapan kaidah penulisan.

 

Metode pembelajaran khat riq’ah yang dirumuskan Yusuf Dzannun kemudian diteruskan, dilestarikan, dan dikembangkan oleh salah seorang murid terkemukanya, Belaid Hamidi al-Maghribi. Pertemuan antara Yusuf Dzannun dan Belaid Hamidi bermula pada al-Mihrājān al-Maghribī al-‘Arabī al-Awwal li al-Khaṭṭ wa al-Zukhrufah al-Islāmiyyah yang diselenggarakan di Rabat, Maroko, pada tahun 1990. Pertemuan tersebut menjadi awal hubungan keilmuan di antara keduanya, yang kemudian Belaid Hamidi menjadikan metode gurunya tersebut sebagai fondasi utama dalam pengajaran khat.

 

Melalui Belaid Hamidi, metode Yusuf Dzannun terus dikembangkan dan diterapkan dalam berbagai lembaga pendidikan kaligrafi di Maroko maupun Mesir. Pendekatan tersebut terbukti mampu mempermudah pembelajaran bagi para pemula, sekaligus membangun pemahaman yang kuat terhadap struktur huruf sebelum mempelajari jenis-jenis khat lainnya. Banyak murid Belaid Hamidi yang kemudian berhasil memperoleh ijazah dalam berbagai jenis khat, sehingga metode ini turut memberikan pengaruh yang luas terhadap perkembangan pendidikan kaligrafi Arab di dunia Islam. Melalui jalur transmisi keilmuan tersebut, metode Yusuf Dzannun juga dikenal dan digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai salah satu pendekatan yang efektif dalam pembelajaran khat riq’ah.

 

Selain dikenal sebagai khattat dan pendidik, Yusuf Dzannun juga memberikan sumbangan penting dalam bidang epigrafi Arab melalui penelitian terhadap inskripsi-inskripsi pada bangunan bersejarah, masjid, makam, dan berbagai peninggalan arsitektur Islam di Irak. Penelitian-penelitiannya mengenai sejarah tulisan Arab, seni Islam, dan peninggalan arkeologis menjadikannya sebagai salah seorang rujukan penting dalam kajian sejarah seni Islam kontemporer.

 

Kepakarannya memperoleh pengakuan luas dari kalangan akademisi. Filolog Arab terkemuka, Dr. Abdullah Bajuri, menyebut Yusuf Dzannun sebagai salah seorang pakar terbesar dalam bidang filologi Arab dan kaligrafi. Menurutnya, sangat sedikit ilmuwan pada zamannya yang memiliki keluasan pengetahuan yang sebanding dalam bidang kaligrafi Arab, epigrafi, sejarah seni Islam, serta warisan arsitektur Arab-Islam.

 

Menjelang akhir hayatnya, Yusuf Dzannun mendirikan sebuah pusat studi yang diberi nama sesuai namanya sendiri. Lembaga tersebut didedikasikan untuk penelitian sejarah, seni, dan kaligrafi Arab, serta menjadi tempat penyelenggaraan berbagai kursus, seminar, dan kajian mengenai sejarah seni Islam serta berbagai aliran kaligrafi Arab. Melalui pusat studi tersebut, ia berupaya memastikan agar tradisi keilmuan dan seni kaligrafi yang telah ditekuninya selama puluhan tahun tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

Pada penghujung Juni 2020, kondisi kesehatan Yusuf Dzannun menurun setelah mengalami stroke sehingga harus menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Mosul. Setelah dirawat selama sekitar satu pekan, ia wafat pada hari Jumat, 3 Juli 2020, dalam usia 89 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Pemakaman Wadi Akab (Maqbarat Wādī ‘Akab) di Mosul. Kepergiannya disambut dengan ungkapan duka dari kalangan ulama, akademisi, arkeolog, sejarawan, dan komunitas kaligrafer di Irak maupun berbagai negara Islam.

 

Melalui karya-karya ilmiah, aktivitas pendidikan, penelitian epigrafi dan sejarah seni Islam, serta dedikasinya dalam melestarikan tradisi kaligrafi Arab, Yusuf Dzannun dikenang sebagai salah seorang tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan kaligrafi Arab kontemporer. Kontribusinya tidak hanya tampak pada karya-karya kaligrafi yang dihasilkannya, tetapi juga pada pembaruan metodologi pembelajaran khat riq’ah, penelitian sejarah tulisan Arab, serta keberhasilannya melahirkan generasi baru kaligrafer yang meneruskan warisan intelektual dan artistiknya di berbagai belahan dunia Islam.

Bibliografi:

 Muhd Nur, “Al-Ustadz Yusuf Dzannun; Ensiklopedi Kaligrafi,” Hamidi Online, 2 Juli 2016. Diakses melalui https://hamidionline.net/yusuf-dzannun-ensiklopedi-kaligrafi/.

“Yusuf Zunnun,” Ketebe. Diakses melalui https://www.ketebe.org/ar/artist/yusuf-zunnun-3903.

Muhammed Ulusoy dan Abdulkadir Dündar, “Mosul Calligrapher Youssef Thanoun (الخطاط الموصلي يوسف ذنون),” Majallat al-Mulawwiyah li al-Dirāsāt al-Āthāriyyah wa al-Tārīkhiyyah, Vol. 11, No. 37, Bagian 1 (Agustus 2024), hlm. 385–412. Diakses melalui AVESİS: https://avesis.bozok.edu.tr/yayin/2a3dc3d8-62c0-4d94-ade8-84a0e6751fd5/mosul-calligrapher-youssef-thanoun.

Lampiran:

 

(Yusuf Dzannun bersama kaligrafer Hamid Aitaç al-Amidi tahun 1996 di Istanbul)

(Yusuf Dzannun bersama kaligrafer Najmudin Okyay)

(Yusuf Dzannun bersama kaligrafer Hasyim Muhammad al-Baghdadi)

(Pertemuan pertama Yusuf Dzannun dengan Belaid Hamidi tahun 1990 di Rabat, Maroko)

(Yusuf Dzannun bersama Belaid Hamidi pada acara “Forum Para Kaligrafer Mushaf Al-Qur’an Terkemuka di Dunia” yang diselenggarakan oleh Kompleks Raja Fahd untuk Percetakan Mushaf Al-Qur’an di Madinah al-Munawwarah, bulan April 2011.)

(Ijazah dari Hamid Aitaç al-Amidi tahun 1966)

(Ijazah dari Hamid Aitaç al-Amidi tahun 1969)

(Maqbarah/makam almarhum Yusuf Dzannun)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ternyata Bukan Kufi! Inilah Khat Madani, Tulisan Al-Qur’an yang Pertama

Ternyata Bukan Kufi! Inilah Khat Madani, Tulisan Al-Qur’an yang Pertama

Tujuh Santri Pesantren Kaligrafi SAKAL Raih Prestasi Internasional di Iraq

Tujuh Santri Pesantren Kaligrafi SAKAL Raih Prestasi Internasional di Iraq

Kaligrafi “Tahiyyat” dan Pentingnya Tauqi’ (tanda tangan) pada Karya Kaligrafi

Kaligrafi “Tahiyyat” dan Pentingnya Tauqi’ (tanda tangan) pada Karya Kaligrafi

Alumni Pesantren Kaligrafi SAKAL Jombang Raih Juara 1 Kategori Diwani jali Kompetisi Kaligrafi Internasional IRCICA 2025

Alumni Pesantren Kaligrafi SAKAL Jombang Raih Juara 1 Kategori Diwani jali Kompetisi Kaligrafi Internasional IRCICA 2025

Khat adalah Seni Arsitektur Ruhani

Khat adalah Seni Arsitektur Ruhani