
Kalau kamu berkunjung ke museum-museum sejarah Islam di dunia, atau sekadar melihat unggahan viral di media sosial tentang “Mushaf Zaman Khalifah Utsman”, apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Kebanyakan dari kita akan membayangkan sebuah lembaran kulit besar dengan tulisan Arab yang tebal, kaku, tegak lurus, dan berbentuk kotak-kotak. Orang-orang biasanya menyebut gaya tulisan kuno itu sebagai Khat Kufi.
Tapi, tahukah kamu kalau fakta sejarah aslinya justru berkata lain?
Manuskrip raksasa beraksara Kufi tebal yang sering kita lihat di museum itu sebenarnya adalah salinan generasi berikutnya (abad ke-2 Hijriah). Cetak biru atau wujud asli tulisan Al-Qur’an yang pertama kali disebarkan di zaman Sahabat ternyata bukan menggunakan Khat Kufi, melainkan sebuah gaya tulisan eksotis yang bernama Khat Madani.

Bagaimana ceritanya aksara miring ini bisa menjadi saksi bisu lahirnya mushaf pertama di dunia? Yuk, kita buka mesin waktu sejarah!
Ketika Wahyu Mengubah Huruf Arab
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab adalah masyarakat komunal yang sangat mengagungkan hafalan dan tradisi lisan (oral culture). Tulisan Arab kuno saat itu masih sangat sederhana—banyak menyerap karakter dari aksara Nabati—dan hanya dipakai untuk urusan terbatas seperti catatan dagang atau perjanjian antar suku.
Namun, begitu Islam datang membawa wahyu pertama, “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…”, dunia literasi Arab langsung mengalami revolusi total. Islam membawa faktor-faktor spiritual yang mewajibkan umatnya untuk menulis. Tulisan tidak lagi sekadar alat transaksi duniawi, melainkan media suci untuk mencatat firman Allah.
Hebatnya, perkembangan tulisan Arab dalam kurun waktu setengah abad setelah Hijrah Nabi menunjukkan kemajuan raksasa. Lompatan kilat ini bahkan melampaui apa yang dicapai selama tiga abad sebelum Islam datang!
Madinah: Laboratorium Tulisan Pertama
Nabi Muhammad ﷺ sangat serius dalam urusan literasi ini. Beliau menugaskan lebih dari 40 orang sahabat khusus untuk menjadi tim penulis wahyu dan dokumen negara. Bahkan, ada momen unik pasca-Perang Badar. Nabi menjadikan kemampuan baca-tulis sebagai alat tebusan bagi para tawanan perang kaum musyrik Makkah. Syaratnya: satu tawanan harus mengajar sepuluh anak-anak kaum Ansar di Madinah sampai bisa membaca dan menulis.
Lewat kebijakan jenius ini, Kota Madinah resmi menjelma menjadi pusat laboratorium perkembangan seni tulis (khat) pertama di dunia Islam. Di sinilah para sahabat seperti Zaid bin Tsabit mengasah kemampuannya. Zaid bahkan menguasai berbagai bahasa asing seperti Persia, Romawi, Koptik, Habasyah, Suryani, hingga Ibrani beserta jenis tulisannya agar bisa menerjemahkan dokumen negara untuk Rasulullah ﷺ.
Dari Pelepah Kurma Menjadi Sebuah “Buku”
Perjalanan fisik Al-Qur’an hingga menjadi sebuah buku yang kita pegang hari ini melewati dua fase darurat yang sangat dramatis:
Mendengar krisis ini, Khalifah Utsman bin Affan mengambil langkah tegas. Beliau meminjam Suhuf induk yang saat itu disimpan oleh Sayyidah Hafsah binti Umar. Utsman lalu menunjuk sebuah tim ahli yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdurrahman bin Amr bin Ash, Abdullah bin Zubair, Ibnu Abbas, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam untuk menyalinnya kembali.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Al-Qur’an disusun berurutan secara resmi dan dijilid di antara dua sampul. Format buku jilid inilah yang secara bahasa disebut Mushaf, yang naskah induknya dinamakan Mushaf Al-Imam. Setelah itu, Utsman mengambil tindakan preventif yang ekstrem: beliau memerintahkan semua mushaf pribadi lainnya dibakar atau dihapus tintanya agar umat Islam bersatu pada satu standar penulisan baku, yang kelak kita kenal sebagai Rasm Utsmani.
Mengintip Wujud Asli Khat Madani: Polos dan Miring
Naskah-naskah standar yang kemudian dikirim Utsman ke wilayah pusat seperti Kufah, Bashrah, dan Syam itu ditulis di atas perkamen (kulit binatang) menggunakan tinta hitam. Visualnya benar-benar di luar bayangan kita sekarang, seperti yang bisa kita saksikan pada peninggalan asli berikut ini:

Jika merujuk pada lembaran autentik di atas, ciri paling menonjol dari rupa Al-Qur’an pertama adalah:
Sangat Polos: Jangan bayangkan ada hiasan bunga-bunga emas, nama surah, tanda juz, atau tanda pemisah ayat. Bahkan, mushaf pertama ini bersih tanpa titik pembeda huruf (naqth) dan tanpa tanda baca (syakl/harakat). Jadi bentuk huruf ba, ta, tsa, atau ya semuanya tampak sama persis. Hanya mereka yang punya hafalan kuat yang bisa membacanya dengan tepat.
Anatomi Huruf yang Miring: Gaya tulisan yang dipakai saat itu dinamakan gaya Makki dan Madani (atau sering dirangkum sebagai Khat Hijazi). Penulis klasik Ibnu Nadim pernah mencatat deskripsi visual khat ini dari saksi mata zaman dulu: “Pada huruf-huruf Alifnya terdapat lengkungan ke arah kanan tangan, dan pada bentuk keseluruhannya terdapat kemiringan yang tipis.”
Bandingkan karakter miring yang organik pada Gambar 2 di atas dengan puncak perubahan gaya tulisan Arab abad berikutnya di bawah ini:

Kesimpulan
Rupa fisik dari tulisan Al-Qur’an yang pertama bukanlah Khat Kufi yang kaku dan berbentuk kotak seperti anggapan khalayak umum, melainkan Khat Madani (Hijazi) yang berciri ramping, polos tanpa ornamen, serta condong miring ke kanan secara organik. Di era awal tersebut, aksara yang belum memiliki titik dan harakat ini belum bersifat mandiri, melainkan berfungsi sebagai mitra pembantu bagi kekuatan memori luar biasa bangsa Arab, di mana seseorang bahkan harus menghafal atau mengetahui isi teksnya terlebih dahulu agar bisa membaca naskah panjang dengan benar. Menariknya, seluruh inovasi besar dalam penyempurnaan tata tulis Arab justru lahir secara eksklusif demi menjaga kesucian mushaf Al-Qur’an, sementara literatur sastra dan kebahasaan umum lainnya harus rela mengantre hingga minimal dua abad kemudian untuk bisa menikmati teknologi tanda baca serupa.
Disusun oleh: Nadhif Andika putra dan Riski Adiwangsa, Santri Kelas I, Pesantren Kaligrafi Sakal (Materi Kitab Fann al-Khatt