

Tiga santri Pesantren Kaligrafi SAKAL menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional. Dalam Musabaqah As-Safir Internasional Khat Arab edisi ke-15 yang digelar di Irak pada tahun 2025, mereka berhasil meraih penghargaan pada dua cabang bergengsi, yakni khat Diwani dan khat Tsuluts, bersaing dengan peserta dari berbagai negara.
Ajang ini diikuti oleh 139 peserta dari sejumlah negara, antara lain Irak, Indonesia, Iran, Suriah, dan Yordania. Musabaqah As-Safir dikenal sebagai kompetisi kaligrafi Arab internasional yang konsisten menjaga kaidah klasik serta menghadirkan dewan juri berpengalaman dari kalangan maestro dan akademisi seni khat.
Musabaqah As-Safir merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan dalam rangkaian Festival As-Safir di Kufah, Irak. Pada edisi ke-15 ini, panitia membuka beberapa cabang khat klasik, seperti Tsuluts, Naskh, Diwani, Kufi Qairawani, Muhaqqaq, dan Nasta‘liq Jali.
Rangkaian lomba diawali dengan pembukaan resmi festival, dilanjutkan pengumpulan karya hingga akhir Desember 2025, sebelum memasuki tahap seleksi dan penjurian. Penilaian dilakukan oleh dewan juri internasional yang terdiri dari para kaligrafer senior dan pakar seni khat dari Irak dan Iran.

Pada cabang khat Diwani, dua santri SAKAL tampil menonjol di tengah persaingan peserta lintas negara.
Masrur Musyafa’ Wahyudin berhasil meraih Juara II (al-jā’izah ats-tsāniyah). Santri asal Jawa Timur ini dikenal menekuni khat Diwani secara konsisten, dengan proses latihan riyāḍah dan bimbingan talaqqi yang berkelanjutan di lingkungan pesantren.
Sementara itu, Ahmad Haikal Nabil memperoleh Penghargaan Tasyjī‘iyyah. Apresiasi ini diberikan sebagai bentuk pengakuan dewan juri terhadap kualitas karya dan potensi artistik yang ditampilkan pada cabang yang sama.
Selain cabang Diwani, prestasi juga diraih pada khat Tsuluts. Nafang Permadi Mulyani Utama meraih Penghargaan Taqdīriyyah (apresiasi). Penghargaan tersebut menegaskan kualitas teknis dan estetika karya Tsuluts yang ditampilkan dalam kompetisi internasional ini.
Keikutsertaan dalam ajang internasional ini memberikan pengalaman berharga bagi para santri. Peraih Juara II cabang Diwani menyampaikan harapannya agar Musabaqah As-Safir terus menjadi ruang belajar dan silaturahmi bagi kaligrafer dunia.
“Ajang ini bukan hanya tentang meraih juara, tetapi tentang proses belajar, menjaga adab dalam berkarya, dan memperluas wawasan seni khat di tingkat internasional,” ujarnya.
Sementara itu, peraih penghargaan tasyjī‘iyyah mengungkapkan kesan mendalam selama mengikuti kompetisi tersebut.
“Melihat karya dari berbagai negara menjadi motivasi untuk terus berlatih dan memperbaiki kualitas tulisan,” tuturnya.

Prestasi internasional ini tidak terlepas dari metode pendidikan yang diterapkan di Pesantren Kaligrafi SAKAL. Proses pembelajaran dilakukan melalui latihan rutin (riyāḍah), talaqqi bersama guru untuk menjaga kaidah dan sanad khat, evaluasi karya secara bertahap, serta pembiasaan mental kompetisi yang tetap berlandaskan adab dan nilai spiritual.
Pendekatan tersebut menjadikan pesantren sebagai ruang pembentukan keterampilan, karakter, kesabaran, dan kedisiplinan dalam seni kaligrafi Arab.
Keberhasilan Masrur Musyafa’ Wahyudin, Ahmad Haikal Nabil, dan Nafang Permadi Mulyani Utama dalam Musabaqah As-Safir Internasional Khat Arab 2025 membuktikan bahwa pesantren kaligrafi Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi santri lainnya untuk terus belajar, berproses, dan mengembangkan seni khat Arab secara berkelanjutan.