Ayaat Contest 2025: Santri SAKAL Toreh Prestasi Internasional

Ajang kaligrafi internasional Ayaat Calligraphy Contest Season 5 menjadi ruang perjumpaan para penulis ayat dari berbagai penjuru dunia. Dalam kompetisi yang digelar pada tahun 2025/1447 H ini, dua santri Pesantren Kaligrafi SAKAL berhasil mencatatkan nama Indonesia sebagai bagian dari para peraih penghargaan.

Musim kelima Ayaat Contest diluncurkan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, sebuah momentum yang memberi makna spiritual tersendiri pada lomba yang berfokus pada keindahan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Ayaat Contest: Lomba Kaligrafi Berbasis Ayat

Ayaat Calligraphy Contest dikenal sebagai kompetisi kaligrafi yang menempatkan ayat Al-Qur’an sebagai pusat eksplorasi visual. Tidak sekadar menampilkan keindahan bentuk huruf, lomba ini menuntut ketepatan kaidah, keseimbangan komposisi, serta kesesuaian ekspresi dengan makna ayat yang ditulis.

Pada Season 5, partisipasi peserta menunjukkan skala internasional yang luas. Tercatat 102 kaligrafer dari 16 negara mengirimkan 881 karya. Dari jumlah tersebut, 703 karya milik 43 kaligrafer dari 11 negara berhasil melaju ke tahap Evaluation Committee, sebelum akhirnya ditentukan para penerima penghargaan.

Proses penilaian dilakukan oleh dewan juri internasional yang terdiri dari para maestro dan praktisi seni khat, yakni Zaki Alhashimi, Samer Saif, Atho’illah, Mohsen Ebadi, Narjes Noureddine, dan Huda Purnawadi.

Dua Santri SAKAL Masuk Daftar Peraih Penghargaan

Di antara ratusan karya yang dinilai, dua santri Pesantren Kaligrafi SAKAL berhasil menembus ketatnya seleksi dan meraih penghargaan.

M. Badruttamami Fadly memperoleh Third Prize / Duplicate dengan hadiah AED 1.000. Karya yang ditampilkan dinilai memiliki kekuatan komposisi dan karakter tulisan yang matang, sehingga layak menempati jajaran peraih hadiah utama.

Sementara itu, Mahfudzi Rosyid menerima Appreciation Prize dengan hadiah AED 500. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas visual dan kekhasan ekspresi kaligrafi yang ditampilkan dalam karyanya.

Kehadiran dua nama tersebut dalam daftar pemenang menegaskan bahwa santri pesantren kaligrafi di Indonesia mampu berbicara di ruang kompetisi global.

Belajar Kaligrafi dalam Tradisi Pesantren

Prestasi di Ayaat Contest tidak hadir secara instan. Di Pesantren Kaligrafi SAKAL, proses belajar kaligrafi dijalani sebagai laku panjang: latihan rutin, penguatan kaidah melalui talaqqi, serta pembiasaan menulis dengan kesadaran adab dan nilai spiritual.

Pendekatan ini membentuk santri bukan hanya sebagai penulis huruf, tetapi sebagai pelaku seni yang memahami makna ayat, kesabaran proses, dan tanggung jawab estetik.

Penutup

Keberhasilan M. Badruttamami Fadly dan Mahfudzi Rosyid dalam Ayaat Calligraphy Contest Season 5 menjadi catatan penting bagi dunia kaligrafi pesantren di Indonesia. Dari ruang belajar berbasis ayat, karya mereka melangkah ke panggung internasional—menunjukkan bahwa tradisi, ketekunan, dan proses yang konsisten tetap relevan dalam percakapan seni global hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Santri Putri SAKAL Jombang Raih Juara di NCC #6

Santri Putri SAKAL Jombang Raih Juara di NCC #6

Dari Pesantren ke Panggung Dunia: Tiga Santri SAKAL Bersinar di Musabaqah As-Safir Irak 2025

Dari Pesantren ke Panggung Dunia: Tiga Santri SAKAL Bersinar di Musabaqah As-Safir Irak 2025

Tujuh Santri Pesantren Kaligrafi SAKAL Raih Prestasi Internasional di Iraq

Tujuh Santri Pesantren Kaligrafi SAKAL Raih Prestasi Internasional di Iraq

Santri Pesantren Kaligrafi SAKAL Jombang raih juara 3 Kompetisi Kaligrafi Internasional

Santri Pesantren Kaligrafi SAKAL Jombang raih juara 3 Kompetisi Kaligrafi Internasional

Santri Pesantren Kaligrafi SAKAL Harumkan Indonesia Di As-Safir Irak

Santri Pesantren Kaligrafi SAKAL Harumkan Indonesia Di As-Safir Irak

FFAA Umumkan Lomba Kaligrafi Internasional yang ke-2

FFAA Umumkan Lomba Kaligrafi Internasional yang ke-2