

Jombang, 14 Juli 2025 — Pesantren Kaligrafi Sakal kembali menggelar acara Masa Ta’aruf Santri Baru (MATASA) untuk tahun ajaran 2025-2026 pada tanggal 13 dan 14 Juli 2025. Acara yang wajib diikuti oleh seluruh santri baru ini menjadi momen penting untuk memperkenalkan lingkungan pesantren sekaligus menanamkan nilai-nilai dasar dan semangat perjuangan yang akan menjadi bekal mereka selama menuntut ilmu di pesantren. Kegiatan ini digelar dengan penuh antusiasme di lingkungan pesantren yang dikenal dengan fokus pengajaran kaligrafi sebagai bagian dari pendidikan spiritual dan intelektual.
Rangkaian acara dimulai pada hari pertama, 13 Juli 2025, dengan upacara pembukaan resmi tahun ajaran baru. Diawali sambutan oleh Ust. Zainul Mujib, M.Pd., Ketua pesantren Kaligrafi SAKAL, dilanjutkan oleh Ustadz Atho’illah, selaku Direktur Pesantren Kaligrafi Sakal, beliau membuka acara dengan sambutan hangat sekaligus pengenalan mendalam mengenai visi, misi, serta keunikan dari pesantren tersebut. Dalam kesempatan ini, beliau menekankan pentingnya kesungguhan dan komitmen para santri dalam menjalani proses belajar, terutama dalam menguasai seni kaligrafi yang menjadi ciri khas pesantren.
Dilanjutkan oleh Ustadz Rosyikin, salah satu tokoh pendiri pesantren, yang memberikan materi tentang spirit perjuangan. Dalam penyampaiannya, beliau mengajak para santri untuk menanamkan semangat juang yang tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan selama belajar di pesantren. Beliau juga menceritakan perjalanan awal berdirinya pesantren sebagai motivasi bagi para santri untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur yang telah dibangun. Sesi ini berlangsung hingga pukul 12 siang, di mana para santri diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdialog secara langsung.
Pada hari kedua, 14 Juli 2025, acara dilanjutkan dengan tema “Ukhwah Khattiah” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdul Rouf Hasbullah. Materi ini menekankan arti pentingnya ukhuwah atau persaudaraan antar sesama santri sebagai fondasi utama dalam kehidupan pesantren. Beliau mengingatkan bahwa kekuatan ukhuwah akan membantu para santri melewati masa-masa sulit dan mendukung mereka dalam meraih keberhasilan baik di dunia pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.
Setelah itu, Ustadz Muhammad Rois memberikan pengenalan tentang Manhaj Hamidi serta menjelaskan sistem kegiatan belajar mengajar (KBM) yang diterapkan di Pesantren Kaligrafi Sakal. Penjelasan ini mencakup bagaimana metode pembelajaran dirancang untuk mengoptimalkan kemampuan santri dalam bidang kaligrafi sekaligus menjaga keseimbangan antara aspek akademik dan spiritual.
Acara MATASA kemudian ditutup secara resmi pada pukul 16.00 oleh Ustadz Mahfudzi Rosyid, Kepala Kurikulum Pesantren Sakal. Dalam sesi penutupan, para santri baru maju satu per satu ke depan untuk memperkenalkan diri serta menyampaikan harapan mereka selama menempuh pendidikan di pesantren. Salah satu santri bernama Moh. Mansur mengungkapkan harapannya, “Semoga ilmu yang saya dapat di Pesantren Sakal bermanfaat dan barokah.” Sementara itu, Riski, santri asal Garut, menyatakan, “Semoga dalam satu tahun saya bisa memenuhi target ijazah pada khat Riq’ah, Diwani, dan Diwani Jali.” Momen ini menjadi sangat berkesan karena menunjukkan tekad dan semangat para santri dalam menapaki perjalanan pendidikan mereka.
Menutup rangkaian acara, pada malam harinya diadakan tasyakuran dengan kegiatan bakar-bakar bersama yang berlangsung hangat dan penuh keakraban. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para santri baru dan pengurus pesantren untuk mempererat tali persaudaraan dan membangun suasana kekeluargaan yang hangat di lingkungan pesantren.
Dengan terselenggaranya MATASA tahun ini, Pesantren Kaligrafi Sakal berharap para santri baru mampu memulai perjalanan mereka dengan semangat yang terjaga, nilai-nilai ukhuwah yang kuat, serta tekad yang bulat untuk menguasai ilmu dan seni kaligrafi. Acara ini menjadi fondasi awal yang kuat agar para santri dapat berkembang secara optimal selama mengikuti pendidikan di pesantren dan kelak menjadi generasi yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.